Menjadi Guru Efektif

January 03, 2009 By: Istiara_27

Selain mengajar dan mendidik siswanya, guru juga merupakan orang tua kedua di sekolah. Guru diharapkan dapat membantu siswanya dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dialami siswanya. Cara yang konstruktif dalam membantu murid menyelesaikan masalahnya misalnya dengan melakukan hal-hal berikut :

Mendengar pasif (Diam). Hal ini merupakan pesan nonverbal yang kuat yang membuat murid merasa diterima dengan tulus dan mendorongnya mengungkapkan masalah dengan lebih dalam. Tapi diam tidak membuktikan bahwa Anda benar-benar menaruh perhatian atau mengerti. 

Respon Pengakuan. Isyarat non verbal (mengangguk, mengerutkan dahi, tersenyum) dan isyarat verbal (”Oh”, “Saya tahu”) memberitahu murid bahwa anda benar mendengarkan dan menyatakan bahwa anda masih memperhatikan dan anda tertarik (empati). Tapi tidak membuktikan bahwa guru memahami masalahnya. 

Kunci Pembuka, Ajakan untuk Bicara. Hal ini memberikan dorongan tambahan agar murid berbicara lebih banyak, lebih dalam atau bahkan untuk mulai berbicara. Misal : “Apakah kau ingin membicarakan hal itu lebih lanjut ?”, “Itu sangat menarik, apa lagi ?”, “Sepertinya engkau mempunyai perasaan mendalam tentang hal itu”, “Saya terkesan dengan apa yang kau katakan”, “Apakah kau mau membicarakan hal itu ?”. Cara ini tidak efektif untuk menunjukkan suatu penerimaan, pengertian atau kehangatan. ‘Membuka pintu’ bukan menjaga ‘pintu tetap terbuka’. Bila terlalu sering digunakan akan menjadi klise. 
Mendengar Aktif (Umpan Balik). Membuktikan bahwa pendengar mengerti. Perlu diperhatikan bahwa apa yang dikatakan murid sering merupakan pesan yang telah disandikan. Sebagai contoh pertanyaan “Jam berapa sekarang” dapat berarti pesan bahwa “Saya lapar”. Dengan mendengar aktif murid dan anda akan tahu bahwa pesan yang disampaikan telah diterima dengan benar, dan tidak hanya merespon sandinya saja. 

Contoh : Murid : Sekolah ini tidak sebagus sekolah saya dulu. Murid-murid di sana sangat ramah.
Guru : Kau merasa dikesampingkan di sini.
Murid : Iya.
atau
Murid : Saya tak tahu apa yang akan saya ambil di perguruan tinggi nanti. Saya ingin mengambil teknik sipil, tapi ibuku ingin akau mengambil matematika.
Guru : Kau bimbang antara keinginanmu dan keinginan ibumu.
Murid : He-eh.

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=961#more-961



Tugas dan Peranan Guru dalam Manajemen Sekolah

January 05, 2009 By: anisatun27

Fungsi dan peranan guru yang utama adalah mentransfer ilmu kepada siswa dalam proses belajar mengajar di ruang kelas, dan partisipasinya dalam pengembangan sekolah.

Tugas guru, dikelompokkan menjadi 3 Jenis, yaitu:

Tugas dalam bidang profesi

Tugas dalam Kemanusiaan

Tugas dalam bidang kemasyarakatan


Tugas Guru dalam bidang profesi, meliputi :

Mengajar

Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah.

Mendidik

Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter),

Melatih

Mengembangkan keterampilan


Tugas guru sebagai pengajar memiliki peran tertentu dalam kaitannya dengan Manajemen sekolah yang meliputi :

- Peran Guru dalam Managemen Kelas

- Pengadministrasian

- secara psikologis

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?m=200901

Memfungsikan Laboratorium Komputer sebagai Laboratorium Bahasa

Memiliki laboratorium bahasa terutama laboratorium bahasa yang mendukung Audio Visual untuk mendukung pembelajaran bahasa (terutama bahasa asing) bagi siswa merupakan impian bagi semua sekolah, terlebih bagi guru bidang mata pelajaran bahasa. Namun sayang karena biaya untuk pengadaan perangkat laboratorium bahasa sangat mahal maka tidak semua sekolah dapat memiliki laboratorium bahasa. Namun sebenarnya dengan teknologi jaringan komputer khususnya teknologi Voice Over Internet Protocol (VoIP) laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa. Sebagaimana kita ketahui dijadikannya teknologi informasi dan komputer (TIK) sebagai mata pelajaran wajib di sekolah mulai dari jenjang SMP maka hampir semua sekolah memiliki laboraotrium komputer. Oleh karena itu memiliki laboratorium bahasa sebenarnya bukan hanya impian bagi semua sekolah, tapi merupakan hal yang sangat mudah dimiliki.
Agar laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa maka laboratorium komputer harus terhubung dalam suatu jaringan (LAN / Local Area Network), kemudian diperlukan juga software untuk mendukung VoIP, dan headset (Microphone dan Headphone) pada setiap komputer. Jika laboratorium komputer di sekolah belum terhubung (belum di-LAN-kan) maka sekolah perlu menyediakan perangkat jaringan yaitu :
- LANCard untuk setiap komputer
- Connector RJ45 (2 buah per komputer)
- Kabel UTP
- Hub / Switch
Biaya untuk pengadaan perangkat ini tidak terlalu besar, yakni LANCard harganya sekitar Rp. 50.000,00/buah, RJ45 Rp. 1.500,00/buah, Kabel UTP sekitar Rp. 2.500,00/meter, dan Hub/Switch harganya berkisar antara Rp. 300.000,00 s/d Rp. 700.000,00. Setelah tersedia perangkat-perangkat jaringan maka sekolah dapat memasang jaringan dengan menggunakan jasa orang yang ahli dalam pemasangan jaringan.


Jika komputer-komputer di laboratorium sudah terhubung dalam LAN, maka selanjutnya tinggal memasang perangkat lunak untuk mendukung VoIP. Terdapat banyak perangkat lunak untuk mendukung VoIP yang dapat di-download di internet seperti Ventrilo, SpeakFreely, Netphone, dsb. Setelah perngkat lunak tersebut dipasang pada setiap komputer maka laboratorium komputer kini dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa.
Beberapa perangkat lunak menyediakan fasilitas yang dapat memfungsikan sebuah komputer sebagai Server yang dapat mengelola komunikasi komputer yang lainnya, misalnya Ventrillo. Ventrillo juga menyediakan fasilitas “Teks to Speak”, yaitu suatu komputer (pengguna) mengirim pesan dalam bentuk teks kepada komputer lainnya. Tapi komputer penerima menerimanya sebagai pesan suara (Voice).
Untuk melengkapi kecanggihan laboratorium bahasa maka pada setiap komputer juga dapat dipasang program pembelajaran bahasa, seperti Learn to Speak English atau Tell Me More. Kedua program ini memiliki banyak fitur untuk belajar Bahasa Inggris. Salah satunya kemampuan untuk memeriksa ketepatan ucapan pengguna dibandingkan dengan Native Speaker.
Semoga bermanfaat, selamat mencoba.

Info:

Ventrilo dapat didownload di http://www.ventrilo.com .

Tulisan ini dikirim pada pada Minggu, Desember 16th, 2007 12:42 am

Sumber : http://asepsuhendar.wordpress.com/2007/12/16/memfungsikan-laboratorium-komputer-sebagai-laboratorium-bahasa/



Meneropong Aktivitas Sekolah Olahraga di Sulsel (1)

Rabu, 17-09-2008

Sudah Fasilitas Minim, Keamanan Sekolah pun tak Terjamin

SMA Negeri 22 Makassar merupakan salah satu sekolah olahraga di Sulsel yang ditetapkan pemerintah. Ironisnya, meski sudah ditetapkan sebagai sekolah olahraga tapi sarana dan prasarana olahraga tidak tersedia. Akibatnya, aktivitas pun tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
 
Sekolah yang baru beroperasi tahun 2007 itu ternyata masih kekurangan sarana pendukung sebagaimana layaknya sebuah sekolah olahraga pada umumnya. Maka tak heran jika sekola tersebut masih kurang diminati. 
Hal itu terjadi karena selain masih baru juga banyak masyarakat yang belum tahu keberadaannya, apalagi lokasinya yang cukup jauh. Di luar kota tepatnya di Kawasan Olahraga (KOR) Sudiang Makassar. Padahal akses jalan menuju kesana cukup lancar. 
Di sekolah ini bukan hanya sekolah olahraga namun tetap digunakan sebagai sekolah sekolah umum dengan kategori sekolah olahraga dan umum. Sayangnya, sejak awal pengoperasiannya proses belajar mengajar di tempat ini sudah tidak efektif. Minimnya sarana berupa sarana olahraga dan sarana pembelajaran menjadi alasan utama mengapa proses belajar mengajar tidak efektif. Belum lagi jumlah siswanya sangat sedikit. Khusus kelas olahraga hanya 12 siswa. 
Tidak sedikit para siswa enggan menginap di asrama karena persoalan fasilitas yang kurang. "Bagaimana kita mau tinggal di asrama, kalau malam gelap gulita dan tidak ada pagar. Kita tidak bisa latihan maksimal karena sarana pendukung jugasangat kurang," ujar salah seorang siswa. 
Selain sarananya yang minim, kawasan ini juga rawan dengan gangguan keamanan dari luar. Apalagi sejak awal area sekolah tidak memiliki pagar pembatas. (Darwin)

Sumber : http://www.beritakotamakassar.com/view.php?id=19061&jenis=Edukasi