Guru Semakin Materialistik

January 03, 2009 By: Dwiani listya27

Guru yang sejak kecil kita sebut adalah pahlawan tanpa tanda nyatanya sekarang seakan butuh bayaran dari orangtua peserta didiknya. Pada akhirnya, guru menuntut kesejahteraan hidup ditanggung oleh peserta didiknya. Kebanyakan para guru tidak lagi main “gratisan” dalam membagi ilmunya. Sehingga ketika peserta didik diajar oleh guru yang hidupnya tergantung pada hasil mengajar di sekolah dan hal ini membuat kinerja guru tidak lagi profesional dibandingkan guru yang hidupnya sudah makmur (kaya).
Ukuran menjadi kategori guru pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ini sangat sulit didapati. Syukurnya, masih ada beberapa guru yang masih berada dalam kategori pahlawan. Setiap kali mengajar, bukan sekedar transfer of knowledge tetapi juga educative (mendidik) dan keeping (mengawasi).
Sesalnya, guru yang berjiwa ideal seperti itu, sudah tidak lagi bersebaran bagai daun rontok dari batangnya. Kebiasaan guru yang lompat sana-sini berakibat tidak sempatnya guru untuk mendidik, mengawasi maupun lainya. Guru hanya dapat datang pada jam belajar, dan langsung kembali ketika bel sekolah berakhir. Terkadang guru sering bolos karena terburu-buru beraktivitas di tempat lain. Guru yang seperti ini, masih belum dikategorikan sebagai guru ideal.

Tipologi Guru
Banyak macam model tipologi guru, mulai dari guru idealis sampai guru materialis. Guru materialis, pada saat ini menjadi guru yang merugikan pada peserta didik. Pendidikan dan peserta didik sudah pasti menjadi tumbal para guru materialis. Sebab, guru yang seperti ini jelas memiliki tipologi bisnis. Segala aktivitas mengajar guru, baginya adalah tergantung sekali pada materi yang mereka peroleh. Ketika guru seperti ini, gajinya naik maka semangat mengajar tumbuh dan ketika gaji lambat turun berdampak guru seperti ini seenaknya sendiri dalam mengajar.
Sangat sulit sekali dengan sikap guru yang seperti ini. Padahal mereka sudah mengenyam pendidikan lebih dulu, malah karena lebih dulu, mereka memanfaatkan jabatan gurunya untuk membodohi peserta didik. Kasus membodohi peserta didik tidak saja terjadi pada sekolah-sekolah saja dan bahkan kasus membodohi di kalangan kampus juga masih sering terjadi dilakukan oleh para dosen yang berjiwa materialis tinggi.
Kerap sekali kasus-kasus pembodohan atau kasarnya adalah penipuan dilakukan dikalangan lingkungan pendidikan. Salah satu misal, seorang dosen yang memanfaatkan tugas-tugas mahasiswanya yang berupa makalah ataupun yang lain untuk dijadikan buku dan diterbitkan dosennya. Lebih parah lagi, buku yang diterbitkan memakai nama penulis dosen tersebut. Padahal isi buku bukanlah murni dari karya dosen bahkan dosen hanya sebagai editor.
Naik Pangkat
Pada saat ini, jabatan guru atau dosen merupakan jabatan yang banyak dimimpikan. Apalagi dikalangan dosen ada istilah kenaikkan pangkat. Dengan demikian, dosen banyak sekali yang berkejaran mencapai kenaikan pangkat. Tetapi sangat tragis, ketika seorang dosen demi naik pangkat dengan nilai poin-poin tertentu membuat para dosen berpikiran kreatif. Sayangnya, ide kreatif dosen tidak didukung kemampuan yang inovatif. Efeknya, cara apapun demi kenaikkan pangkat akan meraka jalani.
Realitanya, banyak pula dosen atau guru yang membuat karya tulis berupa penerbitan buku dibarengi dengan niat agar mendapatkan kenaikan pangkat. Sehingga isi buku pun tidak diperhitungkan dan leganya secara otomatis dengan naiknya pangkat, gaji pun juga naik.
Upaya naik pangkat sampai berujung ambisi menjadi guru besar atau profesor. Parahnya, gemelut cara dosen atau guru lakukan tidak dibarengi dengan ide kreatif yang inovatif, akibatnya pangkat hanya sekedar pangkat, profesor hanya sekedar atribut profesor atau yang lainnya. Pangkat tinggi, pangilan sudah profesor tetapi kapabilitas masih sama dengan umumnya, yakni hanya menjadi profesor lokal biasa.
Berbeda dengan dosen atau guru besar yang berkapabilitas. Mereka banyak dikenal orang, bukan karena mereka pandai berkampanye, tetapi mereka lebih pandai dalam bidang keilmuannya. Semisal dalam aspek penelitian, jurnal ilmiah, penemuan atau aspek lain pendukungnya. Tidak seperti profesor yang asal jadi profesor yang kreatif tak inovatif. Sehingga berkarya pun asal berkarya tidak memperhitungkan nilai keilmuannya. Tetapi, hal itu lumayan saja karena sudah menjadi profesor daripada tidak jadi profesor, “katanya”.
Dari model guru, dosen hingga profesor saya kira sudah menjadi pelengkap dari diri kita untuk membaca dalam rangka mempelajari pernak-pernik masalah pendidikan ataupun masalah lainnya. Kita dapat mengetahui dan mengevaluasi nasib pendidikan yang menjadi tumbal bisnis para pebisnis jasa ilmu. Bagaimana nasib mutu pendidikan jika pendidikan selalu saja menjadi kabing korban.
Walhasil, jika memang semua orang rata suka pada materilis. Alangkah baiknya jika hal itu dapat terminimalisir dengan bertambahnya keilmuan yang kita miliki. Sehingga guru maupun dosen atau profesor sekalipun dan kebetulan mereka dikatakan menjadi figur lebih dulu dalam mengeyam ilmu pengetahuan. Lebih bersikap seperti ilmuwan terdahulu baik seperti ilmuwan dari barat maupun dari timur, tetapi hal itu sama saja ketika kita membaca tidak mengamalkan.[]
*) Bayu Tara Wijaya
Alumni Pondok Pesantren Tanwirul Qulub Karang Geneng Lamongan

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=929#more-929



Guru Sebagai Pengelola Kelas

January 03, 2009 By: Istiara_27

Guru Sebagai Pengelola Kelas

Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar. Mengajar berarti menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan pandangan (Ad. Rooijakkers, 1990:1). William Burton mengemukakan bahwa mengajar diartikan upaya memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Dalam hal ini peranan guru sangat penting dalam mengelola kelas agar terjadi PBM bias berjalan dengan baik.

Mengajar adalah aktivitas/kegiatan yang dilakukan guru dalam kelas atau lingkungan sekolah. Dalam proses mengajar, pastilah ada tujuan yang hendak dicapai oleh guru yaitu agar siswa memahami, mengerti, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan. Tujuan mengajar juga diartikan sebagai cara untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku seorang siswa (Muchtar & Samsu, 2001:39).

Dalam hal ini tentu saja guru berharap siswa mau belajar, baik dalam jam pelajaran tersebut atau sesudah materi dari guru ia terima. Menurut Sagala (2003:12), belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik jika guru dan siswa sama-sama mengerti bahan apa yang akan dipelajari sehingga terjadi suatu interaksi yang aktif dalam PBM di kelas dan hal ini menjadi kunci kesuksesan dalam mengajar. Dengan demikian proses pembelajaran terjadi dalam diri siswa. Pembelajaran merupakan suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan siswa turut merespon situasi tertentu yang ia hadapi (Corey, 1986:195)

Siswa sebagai subjek belajar, mempunyai pandangan/harapan dalam dirinya. Beberapa pandangan siswa terhadap seorang guru yang mereka anggap sukses mengajar di kelas.

tidak membuat siswa bosan dan takut

mempunyai selera humor

tidak mudah marah

mau diajak berdialog dengan siswa

menghargai pendapat siswa dan tidak mudah menyalahkan

menghargai keberadaan siswa

tidak pilih kasih terhadap siswa

menguasai & menjelaskan materi dengan baik dan dimengerti oleh siswa serta mau memaparkan kembali ketika ada siswa belum jelas/belum paham.

Ternyata beragam pendapat siswa tersebut tidak ada satupun yang menganggap kesuksesan seorang guru jika seluruh kelas tuntas saat uji ompetensi/ulangan. Jika demikian, apakah ketuntasan dalam ujian menjadi tidak perlu? Para siswa menjawab bahwa ketuntasan dalam ujian merupakan bagian tanggung jawab siswa dalam belajar karena hal tersebut berhubungan dengan keberhasilan individu. Namun, sebagai guru, kita pun tentu tidak akan melepaskan tanggung jawab atas hasil belajar siswa.

Selain siswa, sedikit gambaran pendapat para guru tentang pandangan siswa tersebut. Bapak & ibu guru berpendapat bahwa mengajar dengan sukses itu:

jika siswa dapat menerima materi/bahan ajar dan hasilnya sesuai target yang diharapkan,

jika siswa antusias menyimak dan memberikan pertanyaan mendalam tentang materi yang mereka terima serta mengaplikasikannya,

jika program tercapai tepat waktu, materi dapat diterima siswa, dan terjadi perubahan dalam diri siswa

jika mampu membuat siswa mengerti apa yang diajarkan oleh guru serta ada perubahan dalam diri siswa, dan mereka me rasa nyaman dalam PBM,

jika dapat menyampaikan materi dengan cara/metode yang baik dan menarik, siswa memahami serta merespon dengan positif, aktif, dan hasil evaluasinya baik,

jika suasana kelas kondusif untuk belajar,

jika ada interaksi dalam PBM secara aktif, perubahan terjadi pada semua aspek.

Dari berbagai pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa mengajar dengan sukses adalah jika guru dapat memberikan materi kepada siswa dengan media dan metode yang menarik, menciptakan situasi belajar yang kondusif dalam kelas sehingga tercipta interaksi belajar aktif. Dengan begitu akan terjadi proses perubahan dalam diri siswa bukan hanya pada hasil belajar tetapi juga pada perilaku dan sikap siswa.

Jadi, mengajar dengan sukses itu tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan yang bersifat kognitif saja, tetapi di dalamnya harus ada perubahan berpikir, sikap, dan kemauan supaya siswa mau terus belajar. Timbulnya semangat belajar dalam diri siswa untuk mencari sumber-sumber belajar lain merupakan salah satu indikasi bahwa guru sukses mengajar siswanya. Dengan demikian kesuksesan dalam mengajar adalah seberapa dalam siswa termotivasi untuk mau terus belajar sehingga mereka akan menjadi manusia-manusia pembelajar. Caranya? Sebagai guru mari kita mau membuka diri dan melihat secara jernih apa yang menjadi harapan siswa dalam diri kita

sumber :http://www.google.co.id/search?hl=id&q=Peran+guru+dalam+pengadministrasian&btnG=Telusuri&meta=

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=925#more-925



Mencari Sosok Guru Ideal

January 03, 2009 By: Susan 27

Oleh: Wijaya Kusumah

Guru ideal adalah dambaan peserta didik. Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.

Guru ideal adalah guru yang mengusai ilmunya dengan baik. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. Ilmunya mengalir deras dan terus bersemi di hati para anak didiknya. Benarkah sosok itu ada? Lalu seperti apakah sosok guru ideal yang diperlukan saat ini?

Guru ideal yang diperlukan saat ini adalah pertama, guru yang memahami benar akan profesinya. Profesi guru adalah profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridho dari Tuhan pemilik bumi. Falsafah hidupnya adalah tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Hanya memberi tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya (Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar).

Kedua, Guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu. Namun, bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca otaknya seperti komputer atau ibarat mesin pencari “Google” di internet. Bila ada peserta didiknya yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para anak didiknya dengan cepat dan benar. Akan terlihat wawasan guru yang rajin membaca, dari cara bicara dan menyampaikan pengajarannya. Guru yang ideal adalah guru yang juga rajin menulis. Bila guru malas membaca, maka sudah bisa dipastikan dia akan malas pula untuk menulis. Menulis dan membaca adalah kepingan mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Guru yang terbiasa membaca, maka ia akan terbiasa menulis, mengapa? Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Menulis itu ibarat pisau yang kalau tidak sering diasah, maka akan tumpul dan berkarat. Guru yang rajin menulis, akan mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisannya sangat menyentuh hati, dan bermakna. Runut serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya.

Ketiga, Guru yang ideal adalah guru yang sensitif terhadap waktu. Orang Barat mengatakan bahwa waktu adalah uang, time is money. Bagi guru waktu lebih dari uang dan bahkan bagaikan sebilah pedang tajam yang dapat membunuh siapa saja termasuk pemiliknya. Pedang yang tajam bisa berguna untuk membantu guru menghadapi hidup ini, namun bisa juga sebagai pembunuh dirinya sendiri. Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Detik demi detik waktunya teratur dan terjaga dari sesuatu yang kurang baik serta sangat berharga. Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik.

Keempat, Guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar copy and paste tanggal dan tahun saja. RPP tinggal menyalin dari kurikulum yang dibuat oleh pemerintah atau menyontek dari guru lainnya. Guru menjadi tidak kreatif. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Untuk melakukan suatu proses kreatif dibutuhkan kemauan untuk melakukan inovasi yang terus menerus, tiada henti.Guru yang kreatif adalah guru yang selalu bertanya pada dirnya sendiri. Apakah dia sudah menjadi guru yang baik? Apakah dia sudah mendidik dengan benar? Apakah anak didiknya mengerti tentang apa yang dia sampaikan? Dia selalu memperbaiki diri. Dia selalu merasa kurang dalam proses pembelajarannya. Dia tidak pernah puas dengan apa yang dia lakukan. Selalu ada inovasi baru yang dia ciptakan dalam proses pembelajarannya. Dia selalu memperbaiki proses pembelajarannya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dia selalu belajar sesuatu yang baru, dan merasa tertarik untuk membenahi cara mengajarnya. Dia senantiasa belajar sepanjang hayat hidupnya.

Terakhir, Guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki terpancar jelas dari karakter dan prilakunya sehari-hari. Baik ketika mengajar, ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Kelima kecerdasan itu adalah: kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, kecerdasan motorik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral, Mengapa? Bila kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan ketimbang proses, segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Jujur bukanlah kebijakan yang terbaik, tetapi jujur adalah satu-satunya kebijakan. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. Selain itu kecerdasan sosial juga harus dimiliki oleh guru ideal agar tidak egois, dan tidak memperdulikan orang lain. Dia harus mampu bekerjasama dengan karakter orang lain yang berbeda. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak gampang marah, tersinggung, dan mudah melecehkan orang lain. Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal.

Wijaya Kusumah
Guru SMP Labschool Jakarta

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=951#more-951



Bagaimana Menjadi Guru yang Baik (Profesional)?

January 03, 2009 By: Susan 27

Tidak mudah menjadi guru yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi. 
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk mendapat pengakuan sebagai guru yang baik dan berhasil.

Pertama. Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

Kedua. Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa siswa yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. 
Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.

Ketiga. Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.

Keempat. Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku siswa. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emasinya. Siswa yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, siswa menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar siswa untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

Kelima. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa. Jangan memarahi siswa yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari siswa yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika siswa sudah tidak beranibertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil. Keenam. Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi guru yang baik, maka seorang guru harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.

Ketujuh. Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi guru tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan guru. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merigikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”

Kedelapan. Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada siswa.

Kesembilan. Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada siswa. Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.

http://zainurie.wordpress.com/2007/05/02/bagaimana-menjadi-guru-yang-baik-pr

Sumber : http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=937#more-937