Guru di Tuban Diawasi CCTV



Kamis, 29 Mei 2008 | 16:39 WIB

Laporan Wartawan Surya, Mujib Anwar

TUBAN, KAMIS - Kemajuan teknologi ternyata tak hanya membantu proses belajar mengajar (PBM), selama berlangsungnya PBM para guru dan siswa juga sekarang diawasi ketat oleh teknologi. Hal ini seperti terjadi di SMAN 1 Tuban.

Di sekolah berstandar internasional (SBI) tersebut, pengawasan terhadap kinerja masyarakat sekolah, mulai guru, siswa, hingga pegawai tata usaha dan administrasi tak hanya diawasi secara manual dengan cara berkeliling melakukan sidak atau berkeliling ke kelas atau ruang yang ada di sekolah untuk memantau kinerja mereka. Tapi cukup dilakukan dengan closed circuit television (CCTV), sebuah kamera pengintai otomatis yang ditempatkan di setiap sudut ruangan.

Kamera khusus inilah yang selalu memonitor keadaan yang ada dalam suatu ruangan selama berlangsungnya kegiatan di sekolah. Hasil sorotannya tersambung dengan sebuah server khusus yang di tempatkan di ruang kepala sekolah (Kasek). Sehingga untuk memonitor apa yang dilakukan masyarakat sekolah, sang kasek cukup melakukannya dari dalam ruangan dengan melihat layar TV 24 inci.

Malah dengan teknologi record yang dimiliki, server yang kapasitasnya 160 giga bisa merekam aktivitas di dalam ruang yang dipasang CCTV meski kasek sedang tak ada di tempat.

Merasa keberadaan dan gerak geriknya selalu diawasi kamera, sejumlah pihak di sekolah mengaku gerah dan keberatan. Meski tak berani menyampaikan secara terus terang, karena kebijakan itu sudah menjadi program sekolah.

Wakil Kasek Bidang Sarana Prasarana SMAN 1 Tuban, Drs Sudarji SH mengatakan saat ini pihaknya telah memasang 16 CCTV di ruang-ruang yang ada di sekolah. Seperti, ruang guru, tata usaha, bimbingan konseling, evaluasi, lab komputer, teacher research room center (TRRC), dan ruang kelas.

Khusus untuk ruang kelas, baru sembilan yang dipasangi CCTV. Semuanya di pasang di ruang siswa kelas kelas XII. “Pemasangan CCTV dan semua instalasi yang diperlukan kami lakukan Januari lalu. Tapi inisiatifnya sudah sejak 2006,” ujarnya kepada Surya, Kamis (29/5).

Meski baru lima bulan CCTV tersebut digunakan, tapi terobosan yang dilakukan sekolah favorit di Tuban tersebut adalah yang pertama dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan. Karena hingga kini belum ada satupun sekolah di Jatim yang memasang alat canggih itu di hampir semua ruangan yang ada di sekolah.

Sekolah yang dikatakan favorit di Jatim, misalnya SMAN 5 Surabaya dan SMAN 3 Malang juga belum melakukannya. Demikian juga dengan sejumlah sekolah asing berstantar internasional di Surabaya. Tak hanya sekolah, perguruan tinggi juga belum menerapkan hal itu. ITS Surabaya yang tersohor sebagai kampus teknik terdepan di Jatim juga belum melakukannya.

Menurut Sudarji, pemasangan 16 CCTV adalah bentuk upaya lembaganya memaksimalkan pengawasan melekat (waskat) terhadap semua komponen yang ada di sekolah. Tujuannya, agar guru dan pegawai makin meningkatkan kinerjanya. Sementara siswa diharapkan bisa belajar lebih baik. “Jadi tak benar, kalau ada yang mengatakan CCTV tersebut untuk intelejensi dan mengawasi setiap gerak-gerik guru, siswa, dan pegawai,” jelas guru Kesenian dan Budaya ini.

Malah semua pihak, kata Sudarji menyambut baik pemasangan CCTV yang menelan anggaran komite sekolah sebesar Rp 15 juta, di mana satu kamera harganya sekitar Rp 800 ribu. Dan ketika proses sosialisasi, tak ada satupun guru yang menolak program terobosan itu. “Semua bisa menerima,” tegasnya.

Bahkan selama pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) untuk siswa SMA April lalu, keberadaan kamera CCTV tersebut sangat membantu tugas pengawas, tim pemantau independen, dan sekolah memantau dan mengawasi kejujuran siswa dalam mengerjakan soal Unas yang diujikan.

Untuk itulah, pihak sekolah, kata guru yang sudah mengajar di SMAN 1 Tuban sejak 1987 tersebut, pada 2009 nanti berencana menambah 16 CCTV lagi untuk ditempatkan di ruang belum ada CCTV. Ke-14 CCTV akan ditempatkan di ruang yang ditempati kelas X dan XI. Dua kamera sisanya ditempatkan di luar ruangan.

Khusus dua kamera yang ditempatkan di tempat tersembunyi untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan pada siswa. Misalnya, jangan sampai membuang sampah di sembarang tempat.

Meski demikian, seorang guru kelas XII kepada Surya mengaku dirinya sebenarnya keberatan dengan pemasangan CCTV di dalam ruang kelas. Karena semua aktivitas dan gerak-gerik selama berlangsungnya PBM di kelas diawasi terus menerus, bahkan direkam. “Kesannya seakan-anak sekolah sudah tak percaya lagi kepada guru dan siswa,” tegasnya.

Menurutnya, tidak masalah kalau pihak sekolah mengawasi semua komponen yang ada di sekolah. Karena hal itu sudah semestinya dilakukan. “Tapi jangan terlalu masuk pada hal-hal yang sifatnya privat dan pribadi,” imbuhnya.

Fifi Endah Afriani dan Danny Pramudita, dua siswa kelas X mengaku menyambut baik keberadaan CCTV di sekolahnya. Menurut keduanya, dengan terus diawasi kamera, para siswa yang ingin bertindak neko-neko tak bisa lagi.

Mereka lantas mencontohkan kegunaan CCTV yang dipasang di lab komputer. Karena ada memonitor, siswa, kata Fifi dan Danny tak bisa membuka situs dan gambar porno. “Kalau tak diawasi kamera CCTV, mungkin masih bisa curi-curi kesempatan untuk melihat situs porno,” jelas keduanya.
Sumber : http://kompas.co.id/read/xml/2008/05/29/16390550/function.session-start#

0 komentar:



Poskan Komentar

Leave a comment here...