PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN

Tuesday, 28 October 2008 07:51

Salah satu point perubahan yang signifikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dibanding UU Sisdiknas tahun-tahun sebelumnya ialah pendeklarasian konsep pembelajaran dalam system pendidikan nasional. Konsep pembelajaran yang merupakan perubahan dari konsep kegiatan belajar mengajar memiliki makna yang dalam dan luas. Pembelajaran merupakan sebuah proses interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar dalam suatu lingkungan yang dikelola dengan sengaja agar tercapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.[1]
Dalam konteks ini, sebuah pembelajaran akan berjalan dengan baik jika berlangsung interaksi yang intens antara siswa, sumber belajar dan lingkungan yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh Guru dan sekolah. Dari konsep pembelajaran seperti inilah maka lahir pembelajaran yang berpusat pada siswa, dimana siswa memiliki pengalaman langsung dalam interaksinya dengan sumber dan media belajar agar terbentuk pembelajaran yang bermakna[2]. 
Untuk itulah maka keberhasilan sebuah pembelajaran setidaknya dipengaruhi oleh 5 komponen kunci, yaitu: (1)Guru, (2) Sumber dan Media Belajar, (3) Lingkungan, (4) Siswa dan (5) proses pembelajaran. Guru dalam pembelajaran memiliki peran yang sangat strategis karena akan berkaitan dengan pengelolaan 4 komponen kunci lainnya. Bahkan dalam konsep tentang sumber belajar yang ditulis oleh Sudjarwo guru dapat dikategorikan sebagai sumber belajar.[3]

Atas dasar hal tersebut dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran, Yayasan Pendidikan Nurul Fikri berkomitmen untuk:

1. Peningkatan Mutu Guru

Guru merupakan salah satu kunci keberhasilan proses pendidikan. Ditangan Guru-lah cita-cita pembangunan pendidikan nasional, kurikulum nasional,visi-misi lembaga penyelenggara pendidikan hingga dan visi-misi sekolah dapat terwujud. Guru yang baik akan mampu mengoptimalkan seluruh potensi sumber dan media belajar yang ada di lingkungannya untuk pembelajaran yang optimal.

Dengan mengacu kepada strategisnya peran guru pada sebuah lembaga pendidikan maka Yayasan Pendidikan Nurul Fikri memberikanperhatian yang besar bagi terwujudnya Guru profesiona.

Untuk mewujudkan guru profesional sehingga meningkat kompetensi dan mutu Guru yang bersangkutan, maka YPNF merancang program-program dan kegiatan yang mengarah pada peningkatan mutu Guru.

Diantara program besar yang saat ini telah, sedang dan akan dilaksanakan diantaranya perwujudan forum diskusi guru (FDG) atau lebih dikenal di masyarakat luas sebagai MGMP. Dalam FDG diharapkan ada sharing konwledge, sharing best practices, peer teaching dan berbagi pengalaman antar guru serta memecahkan masalah yang dihadapi Guru di kelas-kelas mereka. 

Selain FDG, dilakukan juga pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran. Pelatihan tersebut ada yang diselenggarakan secara internal baik pendanaan maupun pesertanya maupun yang bekerjasama dengan pihak luar. Misalnya pada tanggal 20 – 21 Oktober 2008 kemarin baru saja dilaksanakan pelatihan dan workshop penyusunan penelitian tindakan kelas dimana pembiayaannya bekerja sama dengan Direktorat Profesi Pendidik DEPDIKNAS dan pesertanya melibatkan guru yang berasal lebih dari 30 sekolah di sekitar Depok baik sekolah negeri maupun sekolah swasta.

2. Penyediaan dan pengembangan Sumber dan Media Belajar

Yayasan Pendidikan Nurul Fikri menyadari bahwa pembelajaran bermakna akan berlangsung jika siswa terlibat secara aktif dalam menemukan konsep melalui pengalaman langsung dengan media dan sumber belajar. Untuk itulah maka, YPNF berkomitmen secara penuh dan bertahap memenuhi kebutuhan sumber dan media belajar. 

Program dan kegiatan yang dilaksanakan diantaranya secara bertahap sedang dalam proses perwujudan learning resources center di setiap unit. Penataan perpustakaan, laboratorium, dan media center secara bertahap pula terus dikembangkan. Kedepan perpustakaan diharapkan menjadi sebuah tempat penyediaan sumber belajar yang lengkap dan tidak semata bersifat aktif. Perpustakaan diharapkan mampu merancang progam yang mengarah pada pembentukan budaya belajar sehingga terbentuk learner society di SIT NF. 

3. Pembangunan e-learning

Proses pembelajaran sebenarnya dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja. Konsep seperti ini dikenal dengan BEBAS yaitu singkatan dari Belajar Berbasis Aneka Sumber. Untuk itu maka pembangunan dan penyediaan sumber dan media belajar yang open acces menjadi kebutuhan. Selain open access sumber dan media belajar juga harus bersifat multi indrawi atau lebih dikenal dengan istilah multi media. Kebutuhan akan tersedianya sumber dan media belajar yang multi indrawi didasarkan pada kerucut pengalaman belajar yang disusun oleh Edgar Dale. Dalam teorinya E Dale menyatakan semakin melibatkan indera dalam pembelajaran maka akan semakin memberikan pengalaman belajar yang bermakna.

Saat ini dunia pendidikan telah menjadi perhatian hampir semua kalangan, sehingga pengembangan media dan sumber belajar telah mencapai kemajuan yang dignifikan. Dampaknya semua teknologi saat ini dapat dimanfaatkan sebagai media dan sumber belajar. Dari sinilah kemudian berkembang konsep e-learning. E-learning merujuk pada pembelajaran berbasis elektronik. Dalam realisasinya pembelajaran e-learning merujuk pada istilah: pembelajaran berbasis komputer (computer based Instruction, CBI) dan pembelajaran berbantuan komputer (Computer assisted Learning, CAL atau Computer Assissted Instruction, CAI)[4] 

Terkait dengan penerapan e-learning di lingkungan SIT NF, langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan diantaranya mengoptimalkan penggunaan laboratorium computer untuk pembelajaran non computer. Misalnya untuk pembelajaran fisika, kimia, biologi, geografi dan lainnya. Penggunaan Televisi maupun penggunaan computer di kelas untuk pembelajaran mulai diterapkan. Saat ini telah banyak software, VCD, CD dan DVD yang dapat direkayasa untuk pembelajaran.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran yang bersifat open access, YPNF sedang merancang perwujudan web lokal atau local hosting yang berfungsi untuk e-learning. Dalam web ini akan dikembangkan modul, soal latihan informasi dan software-software yang mudah di akses oleh semua civitas untuk pembelajaran. Bukan tidak mungkin, jika semua hal telah siap SIT NF dapat menjadi salah satu sekolah berbasis IT (information technology). 

4. Pengelolaan lingkungan belajar

Salah satu prinsip dari teori behaviourisme ialah lingkungan berpengaruh dalam perubahan perilaku[5]. Paling sederhana dapat dilihat bahwa siswa tidak akan memiliki motivasi belajar yang tinggi jika lingkungan belajar tidak tertata dengan baik. Untuk itulah maka YPNF secara bertahap melakukan pembenahan lingkungan belajar baik di dalam maupun diluar kelas agar terbentuk lingkungan yang ASRI (aman, sehat, resik dan indah). 

Kelas-kelas diharapkan terkelola dengan baik dengan lebih banyak menampilkan informasi yang bersifat mendidik dan memberikan motivasi belajar. Dalam konteks ini maka semua siswa, guru dan karyawan diharapkan senantiasa menjaga dan mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif.

5. Pengontrolan mutu proses pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran di kelas merupakan aktivitas yang menjadi sentral pendidikan di sekolah. Menyadari hal ini maka pengontrolan mutu pembelajaran menjadi hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Dalam kaitan dengan hal ini maka, YPNF memberikan kebijakan agar semua guru pernah mengalami supervisi terjadwal maupun supervisi tidak terjadwal yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, wakil Kepala Sekolah maupun Bagian Akademik. Supervisi dilakukan bukan semata terhadap pelasanaannya, namun dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi tidak luput dari supervisi.

Dengan terselenggaranya supervisi yang baik dan optimal maka diharapkan terjadi proses peningkatan mutu pembelajaran melalui pendampingan dan diperdalam pada FDG sebagaimana telah diuraikan di atas.

6. Pembinaan siswa

Ujung dari proses pembelajaran ialah terbentuknya pengetahun, sikap dan perilaku positif dalam diri siswa. Oleh karena itu faktor siswa dalam penataan dan peningkatan mutu pembelajaran tidak dapat diabaikan. Penanaman sikap disiplin belajar, tertib dalam pelaksanaan, tuntas dalam pekerjaan dan beramal baik dalam keseharian merupakan hal-hal positif dalam pembelajaran di kelas.

Pelibatan siswa dalam peningkatan mutu pembelajaran tidak semata terkait dengan kedipilinan dan sikap selama pembelajaran namun juga dilakukan penanaman motivasi belajar melalui intervensi aspek internal dan eksternal siswa. Terkait intervensi aspek internal siswa, sekolah melakukan kegiatan seperti Achievment Motivation Training dan pembinaan rutin.

Demikianlah point-point yang dapat diungkapkan dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan SIT NF. Tentu kami menyadari bahwa pelaksanaannya tidak semudah dalam penulisan, juga tidak semua yang telah dan akan dilaksanakan dapat dimuat dalam tulisan ini. Akhirnya, kepada Allahlah kita berserah diri dan kepada-Nya kami meminta pengampunan jika ada amanah yang tidak dapat tertunai dengan sempurna. Wallahu’alam bishowab. 

[1] Definisi disarikan dari Yusufhadi Miarso,. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004), Sudarsono Sudirdjo & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Prenada Media, 2004) dan UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003

[2] Lihat pengertian pembelajaran bermakna pada: Orin W. Anderson., David R. Krathwol. A Taxonomi for Learning, Teaching and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objective. (New York: Longman, 2001)

[3] Lihat Sudjarwo. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. (Jakarta: Medyatama sarana Perkasa, 1989)

[4] Lihat Timothy J Newby, et.al. Instructional Technology for Teaching and Learning. ( New Jersey: Prentice Hall, 2000)

[5] Lihat Marcy P Driscol. Psychology of learningfor instruction. (Boston: Allyn and Bacon, 1994) dan Margaret E. Bell Gredler. Buku Petunjuk Belajar dan Membelajarkan. (Jakarta: PAU UT, 1988)

Sumber :
http://nurulfikri.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56:peningkatan-mutu-pembelajaran



0 komentar:



Poskan Komentar

Leave a comment here...